Budaya Nusantara Menyatukan Lintas Bangsa di CommTech Camp Insight 2026 SMP NSA–ITS
Surabaya, Lintas Surabaya — Budaya Nusantara kembali menjadi bahasa universal yang menyatukan lintas bangsa dalam kegiatan CommTech Camp Insight 2026 yang digelar di SMP Nation Star Academy (NSA), Surabaya. Kamis (29/01).
Kegiatan tahunan hasil kolaborasi antara SMP NSA dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menghadirkan pengalaman belajar budaya Indonesia yang hangat, kontekstual, dan menyentuh bagi para peserta internasional.
Sebanyak sekitar 40 partisipan mengikuti rangkaian kegiatan CommTech Camp Insight 2026, terdiri atas mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3, serta dua profesor dari Malaysia. Para peserta berasal dari 21 universitas di Indonesia dan berbagai negara, antara lain Malaysia, Filipina, Thailand, China, hingga Rusia sebagai negara terjauh.
Kepala Sekolah SMP Nation Star Academy, Inggriette Liany W, S.T., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perjumpaan budaya tidak selalu harus dimulai dari panggung megah atau gedung museum.
“Justru pertemuan itu bisa berawal dari benda sederhana yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, seperti papan telenan,” ungkapnya.
Salah satu kegiatan utama dalam penyambutan adalah melukis papan telenan dengan motif batik kawung. Pemilihan media telenan menjadi pendekatan unik agar budaya Nusantara terasa dekat, fungsional, dan dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan oleh para peserta.
“Melalui kegiatan ini, setiap guratan warna batik kawung menjadi dialog lintas bangsa—tentang keseharian masyarakat Indonesia, nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan filosofi hidup,” jelas Inggriette.
Batik kawung sendiri merupakan motif batik klasik khas Jawa, khususnya dari Yogyakarta dan Solo, yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Kuno. Motif berbentuk bulatan simetris menyerupai buah kolang-kaling ini melambangkan keseimbangan hidup, kesucian, ketulusan, serta kontrol diri, dan pada masa lalu kerap dikenakan oleh bangsawan dan pemimpin sebagai simbol kehormatan dan kebijaksanaan.

Tak hanya melalui batik, penyambutan tamu internasional semakin semarak dengan penampilan tari Jejer Jaran Dawuk, tarian khas Banyuwangi yang berasal dari kesenian Gandrung. Tarian ini melambangkan rasa syukur atas panen dan berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Gerakannya yang tegas namun anggun mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang ramah, kuat, dan berakar pada tradisi.
Para peserta tampak terhanyut, menyadari bahwa budaya Indonesia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang dapat dirasakan langsung.
Rangkaian kegiatan budaya lainnya juga menampilkan wajah multikultural SMP NSA, mulai dari alunan musik Guzheng, penampilan Wushu, hingga pengenalan dan praktik memainkan gamelan, angklung, dan kulintang.
Seluruh kegiatan melibatkan siswa-siswi SMP NSA sebagai pendamping, sehingga tercipta interaksi belajar dua arah antara pelajar lokal dan peserta internasional.
Menurut Inggriette, CommTech Camp Insight memiliki fokus utama pada nilai Sustainable Development Goals (SDGs) dan konsep Sustainable and Global Development School.
“Teknologi yang dipelajari para mahasiswa di ITS harus berjalan beriringan dengan pemahaman budaya. Di sinilah peran sekolah, mempertemukan budaya dengan generasi muda, sejak dini,” ujarnya.
Kerja sama antara SMP NSA dan ITS dalam program CommTech Camp Insight telah terjalin sejak tahun 2015 dan terus berlanjut hingga kini. Setiap tahun, kegiatan ini menghadirkan inovasi baru sebagai pembeda.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya peserta diajak mempelajari tari tradisional, maka tahun 2026 mengangkat batik kawung sebagai media utama pembelajaran budaya.
Melalui kegiatan ini, SMP Nation Star Academy menegaskan komitmennya sebagai ruang belajar lintas budaya yang tidak hanya melestarikan warisan Nusantara, tetapi juga mengenalkannya ke kancah internasional secara relevan, kontekstual, dan bermakna—bagi siswa, pendidik, maupun mitra global. (S nto)