Ramadan Bukan Alasan Kendur, Dindik Jatim Wajibkan Sekolah Gelar 3 Program Berdampak

0
Surabaya, Lintas Surabaya – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur resmi menginisiasi gerakan Ramadan Pendidikan Berdampak 1447 Hijriah. Program ini dirancang untuk memastikan para siswa tetap aktif dan produktif melalui berbagai kegiatan positif meski tengah menjalankan ibadah puasa dan menghadapi masa libur sekolah yang panjang.

 

​Berdasarkan kalender pendidikan tahun 2026, siswa akan menjalani libur awal Ramadan pada 16–22 Februari. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan efektif kembali pada 23 Februari hingga 15 Maret, sebelum memasuki libur Idul Fitri pada 16–29 Maret.

 

​Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa gerakan ini melibatkan seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB di Jawa Timur. Secara rinci, program ini diharapkan diikuti oleh 1.522 SMA (negeri dan swasta) serta 2.167 SMK (negeri dan swasta).
​Aries menegaskan bahwa bulan suci tidak boleh menjadi penghambat kreativitas di lingkungan sekolah.

 

​”Jangan jadikan Ramadan sebagai alasan untuk menurunkan ritme kerja. Sebaliknya, ini adalah saat yang tepat untuk memacu kualitas diri serta memaksimalkan pelayanan di sektor pendidikan,” ungkap Aries, Kamis (19/2).

 

​Setiap satuan pendidikan diwajibkan menyelenggarakan minimal tiga kegiatan yang berpijak pada empat pilar utama: spiritualitas, produktivitas, kepedulian, dan inovasi.

 

​Beberapa agenda yang diusung antara lain ​Pesantren kilat tematik dan penguatan karakter, ​Proyek mini pembelajaran berbasis karya, ​Bakti sosial dan gerakan sedekah warga sekolah, ​Lomba konten edukatif dan inovasi belajar, ​Kampanye Ramadan tanpa sampah plastik.

 

​Program Guru Asuh untuk pendampingan murid rentan.
​Khusus untuk penguatan spiritual, Aries menginstruksikan adanya tadarus Al-Qur’an bersama di kelas hingga khatam, zikir kolektif selama 15–30 menit sebelum dan sesudah KBM, serta salat berjemaah yang disertai kuliah tujuh menit (kultum) secara bergantian antara guru dan murid.

 

​Selain aspek akademis dan religius, gerakan ini juga memiliki misi sosial untuk menjaga ketertiban remaja di Jawa Timur.

 

​”Kami ingin melalui kesibukan positif ini, potensi gesekan seperti tawuran antar-pelajar selama bulan puasa bisa kita tekan. Harapannya, kualitas spiritual dan prestasi akademik siswa dapat tumbuh berdampingan secara selaras,” tambah pria lulusan IPDN tersebut.

 

Dindik Jatim juga memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini tidak akan mengganggu materi pelajaran inti. Pihak sekolah diminta tetap menjaga disiplin dan melibatkan orang tua serta komite sekolah secara proporsional.

 

​Untuk memastikan program berjalan efektif, setiap sekolah wajib melaporkan progres kegiatan melalui Cabang Dinas masing-masing. Laporan tersebut mencakup jenis kegiatan, jumlah partisipan, dokumentasi, hingga analisis dampak.

 

​”Kami akan memantau setiap perkembangan. Inovasi-inovasi terbaik dari sekolah akan kami publikasikan secara luas sebagai contoh praktik baik (best practice) di tingkat provinsi,” pungkas Aries.

 

​Melalui gerakan ini, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga pusat keberkahan yang mencetak generasi unggul dan berdaya saing bagi masa depan Jawa Timur. (red)
Leave A Reply

Your email address will not be published.