BerandaUMUMJembatan Suramadu, Bias Keseimbangan Surabaya dan Madura

Jembatan Suramadu, Bias Keseimbangan Surabaya dan Madura

SURABAYA – Infrastruktur jalan raya merupakan salah satu yang terpenting dalam sektor transportasi untuk menunjang perekonomian suatu daerah.

Pada tahun 2020 panjang jalan raya di Jawa Timur yang tergolong jalan dalam kewenangan provinsi tercatat sepanjang 1.442,07 Km. Sementara panjang jalan di Provinsi Jawa Timur yang tergolong jalan kewenangan Jalan Nasional tercatat sepanjang 2.361,23 Km. Dari dua ribuan kilometer tersebut tentu tidak dapat dipisahkan kontribusi Jembatan Suramadu sepanjang kurang lebih 5 Km yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura.

Suramadu adalah kependekan dari Surabaya dan Madura. Beberapa tahun lalu, perpaduan kedua nama tempat disandingkan sebagai nama Jembatan Nasional di Provinsi Jawa Timur, yaitu Jembatan Suramadu. Bangunan nan megah dan mewah tersebut, selaras dengan fungsinya sebagai penyambung lidah logistik masyarakat seharusnya mampu menciptakan kesetaraan ekonomi diantara keduanya. Namun, jika kita perhatikan perdagangan besar maupun kecil, berbagai industri pengolahan penopang ekonomi Kota Surabaya sulit didapatkan di empat kabupaten sekalipun di Pulau Madura.

Fasilitas jembatan megah tersebut, ternyata belum cukup mengangkat pertumbuhan kendaraan terutama kendaraan bermuatan penumpang dan barang di Pulau Madura. Berdasarkan laporan BPS Tahun 2021 Provinsi Jawa Timur menyebutkan pertumbuhan mobil penumpang, bus, truk, dan alat berat di Madura hanya berkisar 11%, 38%, 22%, dan 36% dibanding pertumbuhan di Surabaya yang sebesar 503.066 unit, 3.965 unit, 153.102 unit, dan 196 unit. Meskipun demikian, kondisi ini sedikit terbantu asupan barang melalui Pelabuhan Kalianget sebesar 6.933.873.319 Ton dibanding impor melalui Pelabuhan Tanjung Perak yang hanya sebesar 174.286.939 Ton pada periode yang sama.

Tingkat keberhasilan perekonomian Provinsi Jawa Timur, tentu tidak dapat dilepaskan dari partisipasi seluruh kabupaten atau kota di wilayahnya. Madura yang terhubung jembatan secara langsung ternyata hanya mampu berkontribusi puluhan juta rupiah, ibarat bumi dan langit dengan Surabaya yang besaran kontribusinya telah merambah ratusan triliun rupiah. Sementara, Sidoarjo dan Gresik yang terhubung akses jalan secara langsung dengan Surabaya, arus logistiknya mampu mendudukkan peringkat ketiga dan keempat dibawah Surabaya.

Masih menurut BPS Tahun 2021, akumulasi produk domestik bruto 4 kabupaten di Pulau Madura belum sebanding dengan Kota Surabaya yang sebesar 554.509,46 milyar rupiah. Kedepan diharapkan angka PDB keempat kabupaten di Madura terus meningkat seiring pertumbuhan kendaraan yang melalui jembatan nasional kebanggaan Rakyat Indonesia tersebut. Madura juga ketempatan Pelabuhan Kalianget, meskipun secara historis pelabuhan berstatus pelabuhan nasional, namun bangkitan ekonomi lokal dapat digairahkan melalui pelabuhan yang ada.

Jika kita tilik prinsip ship follow the trade, bahwasannya suatu tempat akan bertumbuh perekonomiannya ketika arus muatan dapat diangkut kapal secara optimal. Dalam konteks ini, peran jembatan sebagaimana kapal diharapkan dapat menyeimbangkan pergerakan dan pembagian barang produksi diantara Madura dan Surabaya. Aspek ekonomis menjadi yang krusial dalam distribusi logistik diantara kedua lokasi, mengingat peran jembatan tersebut dapat mempersingkat jarak yang panjang melaui efisiensi waktu pergerakan.
Kita tentu dapat menyepakati, bahwa kebutuhan hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran seluruh rakyat.

Peran negara dapat hadir di tengah-tengah masyarakat salah satunya melalui Badan Usaha Milik Negara atau BUMN, diketahui Jembatan Suramadu dikelola PT Jasa Marga yang adalah BUMN, maka dengan sendirinya jembatan tersebut merupakan hajat hidup orang banyak. Pembangunan jembatan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang bermuara pada mengecilnya disparitas harga diantara kawasan.

Maka, jika hari ini pencapaian Sampang, Pamekasan, Bangkalan, dan Sumenep masih jauh dibawah Surabaya, maka neraca timbangan bobot keduanya belum seimbang.

Suramadu berfungsi sebagai alat produksi

Sejak awal, kita tahu bahwa jembatan merupakan akses jalan yang menghubungkan dua lokasi yang pada umumnya dipisahkan oleh laut atau sungai. Secara fungsi dapat juga disebut alat produksi, karena waktu pergerakan manusia dan barang yang melaluinya semakin cepat, mudah, serta lancar.

Kecepatan, kemudahan, dan kelancaran logistik yang diharapkan dapat mendatangkan cuan, sehingga sejalan dengan pepatah umum time is money.
Sejak diresmikannya kisaran tahun 2009, keberadaan Jembatan Suramadu yang dikelola oleh Jasa Marga melalui konsep layanan sekelas jalan tol tersebut awalnya berbayar bagi pengendara roda dua, meskipun akhirnya digratiskan. Usulan penggratisan disampaikan oleh kyai, ulama, serta tokoh masyarakat lainnya. Restu penggratisan ini disetujui Pemerintah semata-mata untuk menekan biaya produksi sehingga ekonomi kawasan dapat bangkit.

Jembatan Suramadu dibangun diatas Selat Madura dengan panjang membentang lebih dari 5.000 meter, dan hingga kini masih ditetapkan sebagai jembatan terpanjang di Indonesia. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Meskipun menghabiskan triliunan rupiah, eksistensi jembatan ini tetap penting terutama untuk mengatasi ketertinggalan Madura dari daerah-daerah lain di kawasan Jawa Timur.

Suramadu sebagai timbangan

Anda pasti tahu alat timbangan kuno yang masih dipertahankan pemakaiannya oleh ibu-ibu bakul di pasar-pasar atau toko kelontong, secara gampang sering disebut neraca duduk atau neraca kodok. Sesuai namanya, alat tersebut berfungsi untuk mengukur berat bahan-bahan seperti makanan, rempah, buah-buahan, dll. Bahan-bahan yang akan ditimbang ditumpangkan diatas tempayan sejenis rantang kemudian sisi yang lain ditaruh anak batu berbahan tembaga dengan berat masing-masing. Dan, setelah terlihat seimbang akan terbaca berat bahan tersebut.

Kembali pada kontek disparitas Surabaya dan Madura diatas. Perumpamaan Jembatan Suramadu sebagai alat timbangan, maka kedua wilayah tersebut adalah anak batu dan bahan yang akan ditimbang. Jika bahan terlalu berat, anak batu akan ditambah beratnya, dan kalau bahan terlalu ringan, maka anak batu akan disesuaikan dengan berat bahan. Asumsikan Surabaya sebagai bahan yang telah baku beratnya, maka Madura adalah anak batu yang penting didongkrak pertumbuhannya setidaknya memperkecil jarak tempuh ekonomis dengan Surabaya.

Keberadaan alat transportasi kapal penyeberangan serta jembatan yang bekerja 24 jam 7 hari terus-menerus diharapkan mampu memobilisasi manusia dan barang ke Pulau Madura dengan cepat, mudah, dan ekonomis. Transportasi memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat dan merupakan urat nadi dalam pembangunan ekonomi suatu kawasan. Oleh karena itu keberhasilan pembangunan dibidang ekonomi harus ditunjang dengan pengembangan sistim transportasi yang baik, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Sekat paradigma pandang Masyarakat Madura yang cenderung stagnan perlu dibuka untuk menerima perubahan global yang mengarah pada kecepatan dan kemudahan pertukaran informasi menuju Madura. Keterbukaan menerima barang-barang yang dibutuhkan masyarakat, sembari turut memperlancar supply chain agar kestabilan harga tetap terjaga.

Sehingga, dengan sendirinya hal ini akan meningkatkan produktivitas serta nilai ekonomi sebuah kawasan serta mempercepat pertumbuhan sebuah kawasan.

Penulis: Wahyu Agung Prihartanto

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments