BPJS Kesehatan Surabaya Ungkap Strategi Atasi Status Nonaktif dan Penyakit Katastropik

IMG-20260721-WA0112
SURABAYA, LINTASSURABAYA.COM — Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Muhammad Aras, memaparkan sejumlah catatan penting terkait kepesertaan dan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam kegiatan cangkruk bareng bersama media. Selasa (21/07).
Dari total kurang lebih 2,9 juta jiwa penduduk Kota Surabaya yang telah terdaftar sebagai peserta JKN, tingkat keaktifan saat ini berada di angka 83,5% atau sekitar 2,5 juta peserta. Artinya, terdapat sekitar 400.000 peserta yang saat ini status kepesertaannya nonaktif.
Aras menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang menyebabkan status kepesertaan menjadi nonaktif:
Peserta Mandiri: Tidak rutin membayar iuran bulanan.
Eks-PPU (Pekerja Penerima Upah): Peserta yang sudah resigndari badan usaha atau mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Eks-PBI / Pemda: Peserta yang sebelumnya ditanggung oleh pemerintah namun dinonaktifkan karena tidak lagi memenuhi kriteria desil kemiskinan yang ditetapkan pemerintah (desil 1 sampai 5).
Untuk mengatasi ratusan ribu peserta nonaktif tersebut, BPJS Kesehatan menyiapkan sejumlah solusi taktis. Bagi peserta mandiri, BPJS menyediakan program
REHAB (Rencana Pembayaran Bertahap) agar peserta bisa menyicil tunggakan sesuai kemampuan, di samping opsi pelunasan langsung.
Sementara bagi warga yang kepesertaannya dari segmen pemerintah dinonaktifkan, diarahkan untuk beralih menjadi peserta mandiri.
Dari sisi finansial, tercatat sepanjang semester pertama (hingga Mei-Juni 2026), total dana yang dibayarkan kepada seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes) mitra di Kota Surabaya telah mencapai lebih dari Rp2,23 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perolehan iuran yang terkumpul di angka kurang lebih Rp1,2 triliun, atau dengan rasio pemanfaatan mencapai 158%.
Terkait pembiayaan kesehatan terbesar, Aras menyebutkan bahwa penyakit katastropik masih mendominasi klaim fasilitas kesehatan di Surabaya, terutama penyakit jantung dan cuci darah (gagal ginjal).
Ke depan, BPJS Kesehatan menggandeng media untuk menggencarkan promosi preventif, khususnya terkait pencegahan diabetes melitus yang seringkali menjadi hulu dari berbagai macam komplikasi penyakit berat lainnya. (Snto)

About The Author