Sasar Pasar Internasional, PLN UIP JBTB Berdayakan Kelompok Wanita Boyolali

BOYOLALI, LINTASSURABAYA.COM – Komitmen PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Timur dan Bali (UIP JBTB) dalam menggerakkan kemandirian sosial serta ekonomi masyarakat kembali diwujudkan secara nyata. Lewat inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN UIP JBTB berhasil menginisiasi program pemberdayaan yang inklusif berupa pelatihan merajut, yang secara khusus ditujukan bagi kelompok wanita serta masyarakat rentan di Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.
Inisiatif strategis ini dipersiapkan secara matang dan menyeluruh guna membekali para peserta dengan keterampilan fungsional, yang disertai proses seleksi serta kurasi ketat. Langkah tersebut diambil untuk memastikan bahwa setiap produk rajutan yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar kualitas premium untuk pasar domestik, melainkan juga memiliki daya saing tinggi guna menembus pasar internasional.
General Manager PLN UIP JBTB, Hendro Prasetyawan, menegaskan bahwa fokus TJSL PLN kali ini sengaja menyasar kelompok wanita dan rentan guna memastikan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang merata di sekitar wilayah proyek infrastruktur kelistrikan.
“Kami percaya bahwa kelompok wanita dan kelompok rentan memiliki potensi kreatif yang luar biasa jika diberikan wadah dan pendampingan yang tepat. Pelatihan merajut ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan wujud nyata implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN untuk melahirkan sosiopreneur baru di Boyolali yang mampu mandiri secara finansial,” ujar Hendro.
Pada seremoni pembukaan program, Manager PLN Unit Pelaksana Proyek (UPP) JBTB 1 Yogyakarta Ardo C.H Situmorang hadir secara langsung untuk menyerahkan bantuan pelatihan secara simbolis kepada perwakilan Kelompok Wanita Kelurahan Kemiri. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan pentingnya hilirisasi produk kerajinan ini agar berdampak nyata pada pendapatan keluarga.
“Kami di tingkat unit pelaksana berkomitmen penuh untuk mengawal program ini agar tidak berhenti di ruang pelatihan saja. Target kami jelas, yakni intervensi skill dan penyediaan fasilitas ini harus mampu melahirkan produk terstandarisasi yang siap diserap pasar global. Semoga bantuan ini menjadi batu loncatan penting bagi ibu-ibu di Kelurahan Kemiri untuk mandiri,” tegas Ardo.
Demi menjamin keberlanjutan dan kualitas luaran pelatihan, PLN menggandeng mitra instruktur profesional, PT Megatama Makmur Indonesia, sebagai pelaksana teknis. Direktur Utama PT Megatama Makmur Indonesia, Riza Assegaf, merespons sangat baik program kolaboratif ini dan berkomitmen mengawal proses transfer ilmu berstandar ekspor.
“Kami sangat mengapresiasi langkah progresif PLN UIP JBTB. Dalam pelatihan ini, kami menerapkan metode screening dan kurasi yang detail untuk memastikan produk rajutan yang dihasilkan memenuhi standar komoditas internasional. Potensi ibu-ibu di Kelurahan Kemiri ini sangat besar untuk menjawab kebutuhan pasar rajut global,” ungkap Riza.
Respons positif juga datang dari Pemerintah Daerah setempat. Lurah Kemiri, Budi Nugroho, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian PLN yang bersedia mengintervensi peningkatan kapasitas warganya secara langsung dan aplikatif.
“Atas nama pemerintah kelurahan dan seluruh warga, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN UIP JBTB dan UPP JBTB 1 Yogyakarta. Kehadiran program pelatihan merajut berorientasi ekspor ini memberikan harapan dan semangat baru bagi kelompok wanita serta kelompok rentan di desa kami. Kami siap mendukung penuh agar program ini berjalan sukses dan melahirkan produk unggulan baru dari Kelurahan Kemiri,” tutur Budi.
Melalui sinergi kokoh antara PLN, pemerintah kelurahan, dan mitra korporasi, program TJSL ini diharapkan tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi produk kerajinan tangan lokal, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan keluarga yang berdampak nyata dan berkelanjutan. (red)
