PDS Bekali Petugas Bahasa Isyarat, Wujudkan Pelabuhan Ramah Tuli Jelang Mudik 2026
Surabaya, Lintas Surabaya – Tuli, sebagai salah satu disabilitas yang tidak terlihat, membuat akses kawan Tuli untuk mendapatkan informasi dan fasilitas seringkali terlewat dari perhatian pengelola ruang publik.
Untuk meningkatkan layanan ramah disabilitas menjelang arus mudik lebaran 2026, PDS membekali kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat untuk karyawan yang bertugas di lini depan pelayanan.
Pelatihan bahasa isyarat dilaksanakan di tiga regional dengan kuantitas penumpang yang tinggi. Diawali dengan Makassar New Port (26 Februari 2026), Pelabuhan Trisakti Banjarmasin (27 Februari 2026), dan disusul dengan Pelabuhan Belawan di Medan (2 Maret 2026).
Masing-masing diikuti sedikitnya 30 peserta yang terdiri dari tim manajemen, satuan pengamanan, hingga petugas kebersihan yang sehari-hari bekerja dekat dengan penumpang.
Bekerja sama dengan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, pelatihan menghadirkan narasumber dan guru tuli yang tidak hanya mengajarkan gerakan tangan, tetapi juga membuka perspektif tentang dunia tuli dan kehadiran mereka di ruang publik. Tuli seringkali terlewat dari perhatian karena disabilitas ini tidak terlihat secara kasat mata. Dengan belajar bahasa isyarat, kita dapat memangkas jarak sosial dengan kawan-kawan Tuli dan menciptakan iklim inklusif.
Regional Manager PDS Regional Kalimantan, Deny Samba, menegaskan bahwa langkah ini bukan agenda seremonial.
“Pelabuhan adalah ruang publik. Artinya, siapa pun berhak merasa aman dan dilayani dengan layak. Kami ingin memastikan tidak ada penumpang yang merasa tertinggal hanya karena keterbatasan komunikasi,” ujarnya.
Bagi PDS, keberlanjutan tidak hanya soal operasional yang efisien, tetapi juga tentang dampak sosial yang konsisten. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem layanan yang ramah bagi semua, terutama kelompok yang selama ini sering terpinggirkan secara tidak sadar. Perkenalan lingkungan pelabuhan dengan bahasa isyarat sudah dimulai sejak tahun lalu, melalui pelatihan serupa yang digelar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Dengan keterampilan dasar bahasa isyarat di tangan para petugas garda terdepan, PDS berharap pelabuhan menjadi ruang yang lebih inklusif, tempat di mana setiap memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses layanan dan informasi. (red)
