Latihan Tembak Diduga Picu Luka Siswa SMP, Orang Tua ke DPRD Jatim Cari  Keadilan

0
Gresik, Lintas Surabaya – Saat hiring dengan anggota DPRD Jatim ibu korban peluru nyasar menceritakan Insiden dugaan peluru nyasar yang melukai dua pelajar terjadi saat kegiatan sosialisasi sekolah lanjutan di SMPN 33 Gresik, Rabu (17/12/2025). Dua korban masing-masing berinisial DFH (14) dan ROH (15) mengalami luka serius akibat proyektil yang diduga berasal dari latihan tembak militer.

 

Peristiwa itu terjadi ketika para siswa mengikuti kegiatan di musholla sekolah. Tiba-tiba terdengar suara benturan dan kedua siswa tersebut mengalami luka. Mereka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

 

Berdasarkan keterangan keluarga, hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya proyektil yang bersarang di tubuh korban. Peluru tersebut kemudian berhasil dikeluarkan melalui tindakan operasi.

 

Ada Latihan Tembak di Karangpilang
Dalam proses penanganan awal, seorang perwira yang memperkenalkan diri sebagai Sutaji disebut menemui keluarga korban.

 

Ia menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya latihan tembak yang berlangsung di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, pada waktu yang sama.

 

Latihan tersebut disebut melibatkan sejumlah satuan, di antaranya Zeni, Angmor, POM, dan Taifib.

 

Perwakilan kesatuan, menurut keluarga, menyatakan akan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan menjamin seluruh biaya pengobatan korban hingga tuntas. Namun, keluarga juga mengaku sempat diminta untuk tidak melaporkan kejadian tersebut dan tidak menyebarluaskan informasi.

 

Operasi Sempat Tertunda
Keluarga korban juga mengungkap adanya perlakuan yang dinilai tidak menyenangkan saat proses perawatan. Operasi terhadap DFH yang dijadwalkan pukul 20.00 WIB disebut sempat tertunda karena adanya perdebatan terkait fasilitas kamar perawatan.

 

Seorang dokter yang disebut sebagai perwakilan kesatuan mempertanyakan penggunaan kamar VIP. Situasi tersebut, menurut keluarga, berdampak pada tertundanya tindakan operasi hingga beberapa jam.

 

Pasca operasi, keluarga mengaku didatangi seorang perwira yang meminta agar proyektil yang telah dikeluarkan segera diserahkan kepada pihak kesatuan. Permintaan tersebut ditolak karena dianggap sebagai barang bukti yang semestinya diamankan melalui mekanisme hukum.

 

“Kami keberatan karena itu barang bukti. Tapi justru kami mendapat tekanan dengan nada tinggi,” ungkap Dewi Dewi Murni ibu korban. Selasa (14/04) saat hiring dengan DPRD Jatim.

 

Mediasi Dinilai Tak Jelas
Upaya mediasi antara keluarga korban dan pihak kesatuan dilakukan pada Januari 2026. Namun, keluarga menilai tidak ada kejelasan terkait tanggung jawab jangka panjang, termasuk jaminan masa depan korban yang mengalami luka fisik dan trauma psikologis.

 

Dalam pertemuan tersebut, keluarga mengajukan sejumlah poin penting, seperti evaluasi lokasi latihan tembak, tanggung jawab atas korban, serta jaminan masa depan anak. Namun, menurut pengakuan keluarga, tidak ada jawaban konkret.

 

“Yang kami dapat justru pernyataan yang menyakitkan, seolah-olah persoalan ini soal uang,” ujar Dewi Dewi Murni

 

Lapor Polisi Militer
Merasa tidak mendapatkan kejelasan, keluarga akhirnya melaporkan kasus ini ke Polisi Militer Koarmada V Surabaya pada 5 Februari 2026.

 

Namun dalam proses pengaduan, keluarga kembali mengaku mendapat perlakuan yang dinilai tidak empatik. Salah satu oknum disebut mempertanyakan motif laporan dan menyinggung kondisi psikologis korban secara tidak pantas. Proses administrasi laporan pun disebut memakan waktu hampir seharian penuh.

 

Pada mediasi lanjutan Februari 2026, keluarga mengajukan enam poin kesepakatan, termasuk permintaan maaf resmi, tanggung jawab penuh atas biaya medis dan pemulihan psikologis, serta jaminan masa depan korban.

 

Namun, menurut keluarga, pihak kesatuan justru mengajukan draft perjanjian berbeda yang salah satunya memuat kewajiban orang tua korban untuk meminta maaf kepada pejabat militer serta membuat video klarifikasi. Poin tersebut ditolak keras.

 

“Kami tidak bisa menerima jika korban justru diminta meminta maaf,” tegas ibu korban.

 

Tolak Santunan, Fokus Masa Depan Anak Pada April 2026, pihak kesatuan kembali mencoba memberikan santunan kepada keluarga korban. Tawaran tersebut ditolak.

 

Orang tua korban, Dewi Dewi Murni, menegaskan bahwa keluarga tidak sekadar membutuhkan bantuan dana, melainkan komitmen menyeluruh terhadap pemulihan fisik dan psikologis anak, termasuk rencana operasi lanjutan jika diperlukan.

 

“Kami tidak ingin kejadian ini dipelintir. Yang utama adalah masa depan anak kami,” ujarnya.

 

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kesatuan terkait kronologi latihan tembak maupun hasil investigasi internal atas insiden tersebut. (red)
Leave A Reply

Your email address will not be published.