SURABAYA, LINTASSURABAYA.COM – Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Kota Surabaya menggelar kegiatan Kopi Cangkruk 2026 bertema “Sekolah Demokrasi: Pendidikan Politik dan Kepemimpinan bagi Aktivis Mahasiswa”. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa, aktivis organisasi kepemudaan (OKP), dan generasi muda untuk bertukar gagasan sekaligus memperluas wawasan politik dan kepemimpinan.
Acara yang berlangsung di Kapula Heritage Surabaya ini digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir SAPMA Pemuda Pancasila ke-38 sekaligus momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Ketua PC SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya Kevin Harlens bersama Muhammad Aqilah Rafi (Wakil Ketua 1 PC SAPMA PP Surabaya), Rubens Jans, selaku Sekretaris PC SAPMA PP Surabaya, dan Harun Hakim Laitupa
(Bendahara PC Sapma PP Surabaya)
Selain itu, ada Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni, S.H., serta perwakilan Pemerintah Kota Surabaya melalui Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Tundjung Iswandaru, S.T., M.M.
Ketua PC SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya, Kevin Harlens, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk mengubah stigma negatif yang selama ini melekat pada SAPMA Pemuda Pancasila sekaligus memperkuat perannya sebagai wadah pembinaan kepemimpinan generasi muda.
“Banyak stigma negatif tentang SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya. Hari ini kami ingin menunjukkan perubahan bahwa SAPMA bisa menjadi wadah besar bagi organisasi kepemudaan di Surabaya, sekaligus rumah kepemimpinan yang bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Kevin.
Menurutnya, SAPMA yang merupakan singkatan dari Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa memiliki landasan ideologi Pancasila. Karena itu, pihaknya ingin mendorong para kader untuk mengedepankan pemikiran kritis, intelektualitas, serta pendekatan yang beretika dalam menyampaikan aspirasi.
Kevin menegaskan, peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak seharusnya hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial atau aksi demonstrasi di jalan. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk membangun tradisi diskusi, dialog interaktif, dan pertukaran gagasan yang konstruktif.
“Mahasiswa dan aktivis kepemudaan harus memiliki wawasan politik, memahami situasi, serta mampu membaca kondisi masyarakat. Aspirasi harus disampaikan dengan etika dan cara-cara intelektual yang sesuai dengan nilai luhur Pancasila,” jelasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab besar sebagai agent of change atau agen perubahan sekaligus calon pemimpin masa depan bangsa. Melalui kegiatan tersebut, SAPMA ingin memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan persoalan yang mereka hadapi secara langsung kepada para pemangku kebijakan.
Kevin berharap aspirasi yang muncul dalam forum tersebut dapat diteruskan kepada DPRD Kota Surabaya sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi antara masyarakat, generasi muda, dan pemerintah.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menyambut positif penyelenggaraan Kopi Cangkruk 2026. Menurutnya, forum diskusi kepemudaan seperti ini penting untuk membangun ruang dialog sekaligus menjadi sarana menyerap aspirasi generasi muda.
Ia menilai, pemuda harus diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan harapan mereka terhadap pembangunan. Di sisi lain, para pemangku kebijakan juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemahaman yang tepat agar generasi muda tidak terjebak dalam disinformasi.
“Setiap pertemuan kepemudaan seperti ini bisa menjadi sarana diskursus untuk perbaikan bangsa ke depan. Anak muda harus didengar apa yang menjadi kemauan mereka,” kata Arif.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital di kalangan aktivis dan mahasiswa. Menurutnya, kemampuan memilah informasi harus berjalan beriringan dengan kebiasaan membaca dan memperluas pengetahuan.
Arif mengingatkan bahwa generasi muda tidak boleh kehilangan semangat belajar karena kualitas literasi turut menentukan masa depan bangsa.
Menanggapi pandangan sebagian mahasiswa yang menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor, Arif menilai persepsi tersebut harus dijawab dengan upaya memperbaiki praktik politik melalui keterlibatan langsung.
“Kalau anak muda merasa hari ini politik itu kotor, ayo bergabung ke partai politik. Kita benahi dari dalam agar wajah politik Indonesia ke depan menjadi lebih baik,” tegasnya.
Menurut Arif, politik merupakan sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Karena itu, sikap apatis terhadap politik justru berpotensi menjauhkan generasi muda dari proses pengambilan keputusan strategis yang memengaruhi kehidupan publik.
Selain itu, ia berpesan agar aktivis muda tetap memiliki kepekaan sosial dan tidak kehilangan kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
“Jangan sampai generasi muda kehilangan kepekaan sosial. Kalau anak muda sudah jauh dari persoalan di lingkungannya, gerakan kepeloporan pemuda bisa hilang pada masa mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kota Surabaya, Tundjung Iswandaru, yang mewakili Pemerintah Kota Surabaya, menyampaikan bahwa kegiatan kepemudaan seperti Kopi Cangkruk perlu menjadi ruang untuk menangkap aspirasi dan persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, generasi muda merupakan penerus perjuangan bangsa sehingga membutuhkan saluran komunikasi yang terbuka agar gagasan dan keluhan mereka dapat disampaikan secara tepat.
“Apa yang ada di lapangan harus kita tangkap dan tindak lanjuti. Ke depan, anak muda yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Jangan sampai saluran aspirasi mereka buntu,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Surabaya terbuka untuk memfasilitasi kegiatan kepemudaan selama dilaksanakan melalui koordinasi dengan pihak terkait dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tundjung juga mendorong organisasi kepemudaan untuk menyampaikan kebutuhan dan programnya kepada pemerintah agar dapat dicarikan solusi bersama sesuai kapasitas dan kewenangan yang ada.
Kevin Harlens mengungkapkan, Kopi Cangkruk merupakan bagian dari rangkaian kegiatan SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya yang sebelumnya telah dilaksanakan melalui agenda silaturahmi dengan sejumlah Pimpinan Anak Cabang (PAC), di antaranya di Dukuh Pakis, Jambangan, dan Gayungan.
Menurutnya, kegiatan di Kapula Heritage Surabaya tersebut merupakan penyelenggaraan keempat dalam rangkaian program yang bertujuan memperkuat komunikasi, membangun jejaring, dan memperluas ruang dialog antarkomunitas kepemudaan.
Dari target awal sekitar 100 peserta, kegiatan tersebut justru dihadiri kurang lebih 170 orang. Kevin menilai antusiasme tersebut menunjukkan besarnya minat generasi muda untuk terlibat dalam ruang diskusi dan pendidikan politik.
Ia juga menyebut forum tersebut tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa dan aktivis organisasi, tetapi turut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Salah satu aspirasi yang muncul berkaitan dengan kesulitan akses masuk sekolah tingkat SMP dan SMA. Hal tersebut, menurut Kevin, menunjukkan bahwa ruang komunikasi yang dibangun SAPMA dapat dimanfaatkan lebih luas untuk menjembatani persoalan masyarakat dengan pihak yang memiliki kewenangan.
“Ini bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga masyarakat Kota Surabaya. Apa pun aspirasi dan keluhan masyarakat, kami berharap SAPMA bisa menjadi salah satu wadah untuk menampung dan menyampaikannya kepada pihak terkait,” katanya.
Ke depan, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya berencana melanjutkan kegiatan serupa dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, organisasi kepemudaan, mahasiswa, serta para pemangku kebijakan.
Kevin berharap forum mendatang dapat menghadirkan lebih banyak pimpinan legislatif agar aspirasi mahasiswa dan masyarakat bisa didengar secara langsung.
Melalui Kopi Cangkruk 2026, SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya ingin menegaskan bahwa organisasi kepemudaan dapat berperan sebagai ruang pendidikan politik, pembinaan kepemimpinan, dan penyaluran aspirasi yang mengedepankan dialog serta intelektualitas.
Momentum Hari Sumpah Pemuda dan Hari Lahir SAPMA Pemuda Pancasila ke-38 pun diharapkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus belajar, meningkatkan literasi, menjaga kepekaan sosial, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan Kota Surabaya dan Indonesia. (Snto)









