Refleksi Spiritual Malam 1 Suro dan 1 Muharram, Ketua LRPPN-BI Jaga Kedamaian di Rumah

Oplus_131072

Oplus_131072

SURABAYA, LINTASSURABAYA.COM – Peringatan malam 1 Suro yang bertepatan dengan pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Selasa (16/06), menjadi momentum spesial bagi masyarakat Indonesia. Ketua LRPPN-BI, Prof. Siswanto, memaknai momen ini sebagai waktu yang tepat untuk memperdalam nilai spiritual sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur yang sarat akan makna kehidupan.
Bertempat di kantor LRPPN-BI, Jalan Khairil Anwar, Surabaya, Siswanto menekankan bahwa perayaan ini bukan sekadar rutinitas tradisi semata. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan momen pergantian tahun ini sebagai ajang introspeksi diri, menyelaraskan nilai-nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam, serta mempererat ikatan kekeluargaan di tengah dinamika zaman yang kian menantang.
Menurutnya, perayaan datangnya 1 Suro tidak hanya menjadi bagian dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi momentum refleksi diri dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
“Bagi umat Islam di seluruh dunia, pergantian Tahun Baru Islam merupakan momen yang sangat penting. Sementara bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki nilai sakral sebagai bagian dari budaya bangsa yang diwariskan oleh para leluhur dan perlu terus dilestarikan,” ujar. Siswanto, Senin (15/6/2026).
Siswanto menambahkan, peringatan malam 1 Suro hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana introspeksi diri serta memperkuat hubungan kekeluargaan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan malam 1 Suro sebagai ajang kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian berlebihan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat diisi dengan kegiatan positif bersama keluarga di rumah.
“Memperingati malam 1 Suro diusahakan jangan sampai keluar rumah. Kalau bisa dirayakan di rumah bersama keluarga untuk lebih mempererat tali persaudaraan antaranggota keluarga,” tegasnya.
Menurut Siswanto, kebersamaan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi muda sekaligus menjadi benteng awal dalam mencegah berbagai pengaruh negatif di lingkungan masyarakat.
Peringatan malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi momentum bagi masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara nilai budaya dan ajaran agama. Tradisi yang diwariskan oleh para leluhur diharapkan tetap dapat dijalankan secara positif tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Siswanto berharap masyarakat dapat menyambut Tahun Baru Islam dengan penuh rasa syukur, memperbanyak doa, meningkatkan ibadah, serta memperkuat keharmonisan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Semoga momentum 1 Suro dan Tahun Baru Islam ini membawa keberkahan, kedamaian, serta memperkuat persatuan dan persaudaraan di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Snto)

About The Author